Wisata & Budaya

Topik Pilihan Seputar Pulau Bawean

7 Seni Tradisi Pulau Bawean

7 Seni Tradisi Pulau Bawean

Selain pencak silat, Pulau Bawean yang sejak dulu dijadikan pulau transit beberapa kaum di Nusantara, memiliki beragam kesenian. Hingga kini ada yang masih bertahan, namun ada yang sudah musnah. berikut  7 seni tradisi Pulau Bawean


 
1. Bangsawan (dibaca Bengsawen)
Kesenian ini diadopsi dari Melayu. Bentuknya mirip ketoprak Jawa atau drama. Namun bangsawan, sesuai namanya, selalu berkisah tentang kaum bangsawan (raja-raja). Di negeri asalnya, bangsawan biasa dipentaskan pada acara-acara khusus.

 
2. Jibul
Jibul diadopsi dari aceh. Dalam pementasan ini, seorang lelaki tunanetra akan melantunkan kisah-kisah rakyat atau dongeng. Hal ini mirip pementasan yang dilakukan pendongang asal Aceh, PM Toh.

Jibul marak dipentaskan pada tahun 1950-an ke bawah. Namun kini sudah hilang.

 


3. Saman (dibaca samman).
Kesenian ini juga diadopsi dari Aceh. Diskripsinya sudah bisa kita saksikan saat ini. Namun di Bawean, seni tari samman sudah jarang dipentaskan.

 

4. Mandiling
Mandiling adalah seni pantun. Hingga kini, di Bawean masih tetap eksis dan sering juga dipentaskan. Biasanya, mereka berkelompok. Ada beberapa orang yang menabuh gendang lonjong dan gong.
Selanjutnya, orang lelaki berkebaya mirip perempuan, akan tampil menari sambil berpantun jenaka. Kadang pula pementasan ini melibatkan penonton, sehingga membuat mandiling meriah. Hingga saat ini grup mandiling yang masih eksis dan terkenal di Bawean berasal dari Desa Daun.

 

5. Korcak
Seni ini hingga saat ini masih eksis dan dipentaskan. Biasanya dimainkan secara berkelompok. Semua pemainnya adalah laki-laki. Mirip saman, mereka akan berbaris rapi lalu menyanyikan lagu padang pasir, sambil menabuh rebana.


 

6. Samrah
Seni masih eksis dan dipentaskan. Semua pemainya adalah perempuan, biasanya mereka menyanyikan lagu qasidah sambil menabuh rebana.


 
7. Kercengan
Seni ini merupakan perpaduan antara saman dan samra. Biasanya sekelompok wanita akan duduk berbaris. Semuanya berseragam dan memakai sarung tangan warna putih.
Selanjutnya mereka akan menggerakkan tangan ke sana-kemari, diiringi alunan irama padang pasir. Berbeda dengan samra yang hanya memakai rebana, di seni ini, pemakaian alat musik full diperkenankan.

©Dari berbagai sumber


Kembali ke halaman sebelumnya